Tak kenal maka tak sayang. Memang klise. Tapi, karena dianggap klise itulah makanya kita sering malas mengenal, sehingga malas pula menyayang. Begitu juga misalnya kepada terumbu karang. Banyak orang yang tak terlalu peduli pada nasib karang dan terumbu karang, mungkin karena tak berkaitan langsung dengan kehidupan orang-orang tersebut. Tapi, jika kita mau menyisihkan waktu sejenak saja untuk mengenal agak jauh tentang karang dan terumbu karang, jangan-jangan kita bisa langsung sayang. Lalu, kita bisa ikut mengajukan protes atau keberatan jika di mana-mana para kapitalis membangun proyek reklamasi pantai, yang salah satu akibat negatifnya adalah rusak atau lenyapnya ekosistem terumbu karang di daerah pantai itu.
Padahal, dari sudut bisnis pun, semestinya para pemodal malah mempertahankan keberadaan terumbu karang itu. Sebab, salah satu keindahan ciptaan Tuhan ini akan mampu menjadi daya tarik wisata. Karena itu, tak ada salahnya kita mengenal terumbu karang lebih jauh.
Pada tulisan Silvianita Timotius, M.Si2 ini antara lain kita bisa mengenal jenis-jenis terumbu karang, dan bagaimana mereka hidup. Juga, bagaimana suatu spesies yang tampak tak berguna sebenarnya berguna bagi ekosistem terumbu karang lainnya.
Sebagai dasarnya, Silvianita Timotius antara lain memaparkan bahwa terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hewan karang. Karang sendiri adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hewan berrongga) atau Cnidaria.
Yang disebut sebagai karang (coral) mencakup karang dari Ordo scleractinia dan Sub kelas Octocorallia (kelas Anthozoa) maupun kelas Hydrozoa. Lebih lanjut dalam makalah ini pembahasan lebih menekankan pada karang sejati (Scleractinia).
Satu individu karang atau disebut polip karang memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari yang sangat kecil 1 mm hingga yang sangat besar yaitu lebih dari 50 cm. Namun yang pada umumnya polip karang berukuran kecil. Polip dengan ukuran besar dijumpai pada karang yang soliter.
Courtesy By Satudunia
