Kamboja berbuah burung
Bingung mencari ide untuk artikel Djarum Black Blog Competition aku bengong dan mulai putus asa. Mata menerawang kosong memandang sebuah pohon kamboja di depan rumah. Melihat burung gereja yang asik bermain dan saling kejar diantara dahan kamboja yang kokoh membuatku iri dan berfikir, seandainya aku ini seekor burung seperti mereka, akankah aku bisa bahagia? atau aku tersisih seperti burung-burung di kota yang mulai kehilangan tempat bermain?
Tiba-tiba saja aku terhenyak dari tempat dudukku dan berfikir betapa beruntungnya aku ini. Walau aku hidup di kota kecil, tidak mengenal beri beri yg lagi ngetrend, tidak mengenal mobil balap, tidak termasuk anggota geng motor atau ikutan Black Motor Community, tapi aku bisa menikmati pemandangan indah, menghirup udara yg segar tidak ubahnya seperti burung gereja yg sedang bermain dengan riang di pohon kamboja.
Aku pernah sesekali ke kota besar seperti Jakarta, kesan yg kudapat hanya bising, pengap, panas, suasana yg tegang. Jauh berbeda dengan suasana di rumahku, apalagi kalo aku pulang kampung. Kampungku yg dulu dan sekarang memang sedikit berbeda, yg dulu lebih indah dan asri.
Aku mungkin tau kenapa begitu berbeda antara kampungku, kota tempat tinggalku, dan kota besar. Menurutku karena alam selalu mengalah, mengalah dan mengalah. Namun seperti kata kebanyakan orang “sabar itu ada batasnya”. Sangat perlu untuk kita waspada, jangan sampai kesabarn alam itu terlampaui dan memuntahkan seluruh isinya. Tzunami Aceh mungkin bukan contoh kemarahan alam, tapi contoh kekuatannya, letusan gunung, longsor, banjir (sangat sering kita lihat), gempa dan masih banyak lagi.
Janganlah menanam gedung dan perumahan untuk memetik buah musibah, mari mulai menanam pohon untuk memetik buah kelestarian, seperti pohon kamboja depan rumah yang “berbuah” burung gereja.
Category: My story | Need to Concern
Tags: Idelisme | motivasi
Newer post: Bali International Triathlon 2009
Older post: Menyikapi “Pemulung Dilarang Masuk!”

Recent Feedback